Mon. Dec 5th, 2022

Heat detector atau alat deteksi panas termasuk salah satu komponen anti kebakaran yang harus dimiliki setiap gedung selain hidran atau fire extinguisher. Karena keberadaannya cukup penting, kita perlu tahu asal mula teknologi ini dan bagaimana cara kerjanya.

 

Apa Itu Heat Detector?

Alat deteksi panas merupakan sistem anti kebakaran yang bekerja dengan cara memindai panas pada ruangan tempat alat berada. Apabila alat mendeteksi adanya kenaikan suhu hingga 60°C, maka detector akan langsung terhubung dengan alarm untuk mengeluarkan bunyi peringatan.

Selain alarm, alat deteksi panas juga terhubung dengan sprinkler. Sprinkler adalah sistem pemadam kebakaran yang bekerja dengan cara memancarkan air ke segala penjuru begitu alarm berbunyi. Harapannya, air yang dipancarkan dapat memadamkan sumber panas dan minimalisasi risiko kebakaran.

 

Asal Mula dan Perkembangan Heat Detector

Selain alat pendeteksi panas kita juga mengenal alat deteksi asap. Secara teknis, fungsi kedua alat ini mirip, yaitu untuk mendeteksi kebakaran sedini mungkin. Keduanya juga sama-sama dipatenkan oleh George Andrew Darby, seorang ahli Fisika sekaligus ilmuwan asal Eropa. 

Alat pendeteksi panas pertama kali diperkenalkan pada tahun 1902. Tapi pada tahun 1930 sampai 1965, alat ini banyak dikembangkan oleh para ilmuwan termasuk di antaranya Walter Jaeger. Dari pengembangan yang dilakukan oleh ilmuwan tersebut-lah, cikal bakal alat pendeteksi panas modern tercipta.

Sampai detik ini, masih banyak pengembangan yang dilakukan agar heat detector bisa hadir dalam versi lebih baik dan terintegrasi ke berbagai alat lain sehingga kebakaran bisa dicegah sedini mungkin. 

dengan adanya Kontraktor fire alarm anda bisa menghubungi mereka untuk meminimalisir kesalahan jika melakukan pemasangan bukan dengan ahlinya. untuk itu kami sangat menyarankan agar pekerjaan System Alarm dilakukan pada ahlinya.

 

Cara Kerja Heat Detector

Di pasaran, ada dua jenis alat pendeteksi panas yang beredar, yaitu rate of rise detector (ROR) dan fixed detector. Keduanya memiliki cara kerja dan keunggulan masing-masing yaitu,

 

1. Cara Kerja ROR Detector

ROR bekerja dengan menggunakan sistem thermocouple sehingga cukup sensitif pada suhu dan api. Dalam 1 menit saja, ROR mampu mendeteksi kenaikan suhu hingga 12°C. Untuk area deteksinya, ROR bisa mencapai 50 m2 apabila diletakkan pada ketinggian 4 m. Ketika diletakkan di plafon yang lebih tinggi, jangkauannya berkurang menjadi 30 m2.

Hal tersebut membuat ROR cocok digunakan pada ruangan atau tempat dengan suhu normal tanpa banyak asap seperti kamar, kantor, rumah sakit, atau ruang arsip. Agar ROR berfungsi maksimal, alat ini diciptakan anti lembab, debu, dan tidak bisa dimasuki serangga.

 

2. Cara Kerja Fixed Detector

Berbanding terbalik dengan ROR, fixed detector bekerja dengan cara membandingkan suhu ruangan dengan suhu maksimal yang tercatat pada sistem. Contohnya, suhu sebuah ruangan sekitar 40°C dengan suhu maksimal tercatat sekitar 50°C. Saat menggunakan ROR, suhu 40° akan langsung mengaktifkan alarm.

Kebalikannya, fixed detector justru menganggap suhu tersebut normal dan tidak memicu alarm sebab dibanding suhu maksimal yaitu 50°C, suhu ruangan tergolong rendah. Sederhanakan? Inilah mengapa fixed detector biasanya diletakkan di ruangan risiko tinggi seperti dapur, basement, ruang mesin, atau ruang beruap.

Untuk area deteksi, jenis ini bisa memindai hingga sejauh 30 m2 apabila dipasang pada plafon setinggi 4 m. Jika diletakkan lebih tinggi lagi, sekitar 8 m, area deteksinya menyusut hingga 15 m2 saja. Karena cara kerjanya melibatkan suhu maksimal ruangan, fixed detector telah dikalibrasi otomatis dan melewati ujui kontrol maksimal.

Membaca ulasan di atas dapat dipahami bahwa memiliki alat pendeteksi panas sangatlah penting. Apalagi jika kita tinggal di lantai atas sebuah gedung yang sulit dijangkau petugas pemadam kebakaran. 

By roket