Pengertian Hadits Sahih dan Perawinya

Hadits Keutamaan Menuntut Ilmu
Pengertian hadits Shahih dan Perawinya

Yang diartikan hadits shahih ialah hadits yang sehat dan betul. Pemahaman hadits shahih menurut bahasa memiliki arti syah, betul, prima, sehat (tidak ada celanya), tentu. Defisi hadis shahih secara nyata baru ada sesudah Imam Syafi’i memberi keterangan mengenai kisah yang bisa jadi hujah.

Imam As-Suyuti mendifinisikan hadits shahih dengan “hadits yang berlanjut sanadnya, diriwayatkan oleh perowi yang adil dan dhobit, tidak syadz dan tidak ber’ilat”.

Disamping itu, ada beberapa perawi hadist shahih yang paling populer, siapa perawi hadits shahih? Berikut sebagai beberapa nama perawi hadits shahih.

Periwayat Hadits.

Periwayat Hadits yang terterima oleh sunni.

1. Shahih Bukhari, diatur oleh Bukhari (194-256 H).

2. Shahih Muslim, diatur oleh Muslim (204-262 H).

3. Sunan Abu Dawud, diatur oleh Abu Dawud (202-275 H).

4. Sunan at-Turmudzi, diatur oleh At-Turmudzi (209-279 H).

5. Sunan an-Nasa’i, diatur oleh an-Nasa’i (215-303 H).

6. Sunan Ibnu Majah, diatur oleh Ibnu Majah (209-273).

7. Musnad Ahmad, diatur oleh Imam Ahmad bin Hambal.

8. Muwatta Malik, diatur oleh Imam Malik.

9. Sunan Darimi, Ad-Darimi.

Periwayat Hadits yang terterima oleh Syi’ah.

Muslim Syi’ah cuman memercayai hadits yang diriwayatkan oleh turunan Muhammad saw, lewat Fatimah az-Zahra, atau oleh penganut Islam awalan yang berpihak Ali bin Abi Thalib. Syi’ah tidak memakai hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut golongan Syi’ah di-claim memusuhi Ali, seperti Aisyah, istri Muhammad saw, yang menantang Ali pada Perang Jamal.

Ada banyak sekte dalam Syi’ah, tapi mayoritas memakai:

* Ushul al-Kafi.

* Al-Istibshar.

* Al-Tahdzib.

* Man La Yahduruhu al-Faqih.

Lantas apakah hadits mutawatir sudah tentu shahih dan dapatkah hadits hasan jadi shahih? Bila ingin ketahui jawabnya baca penuturannya di bawah ini.

Untuk jawaban yang pertama sudah pasti iya. Bahkan juga lebih shahih dibanding hadits yang kita mengenal dengan panggilan hadits shahih. Karena hadits mutawatir tidak bisa saja rawinya untuk bohong.

Pengetahuan yang dibuat dari hadits mutawatir ialah pengetahuan percaya, atau kerap disebutkan pengetahuan dharuriy. Pengetahuan dharuriy oleh Ibnu Bantai diartikan sebagai pengetahuan yang tidak dapat ditampik oleh semuanya orang [Ibnu Bantai al-Asqalani (w. 852 H), Nuzhat an-Nadzar, hal. 39].

Tapi tidak boleh salah dengan menduga jika hadits ahad sebagai kontradiksi dari hadits mutawatir itu tentu tidak shahih. Karena saat kita berbicara shahih atau mungkin tidak sah, kita berbicara mengenai kualitas perawi. Dan jika kita berbicara mengenai mutawatirk kita sedang berbicara mengenai jumlah perawi. Dan istilah shahih itu semata-mata berbicara kualitas perawi.

Untuk jawaban pertanyaan ke-2 ialah Hadits hasan lidzatihi dapat naik derajatnya jadi hadits shahih jika:

kekurang sempurnaan rawi mengenai kedhabitannya itu bisa ditutup, misalkan hadits hasan lidzatihi itu memiliki sanad yang lain lebih dhabit, naiklah hadits hasan lidzatihi ini, jadi hadits shahih lighairihi. Contoh: hadits dari Muhammad bin Amr dari Abi Salamah dari Abi Hurairoh bahwa Nabi bersabda

لو لا أن أشق علي أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة

“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudlu.

Letak hadits ini masuk pada kelompok lighorihi. Menurut Ibnu Sholah memberikan argumen karena pada Muhammad bin Amr bin al-Qomah terhitung orang yang kurang kuat dalam hafalan, kemampuan, daya ingat dan kepandaianya, Namun hadits ini dikuatkan dengan lajur lain, yakni oleh al A’raj bin Humuz dan sa’id al Maqbari karena itu bisa digolongkan shahih lighirihi.

Berikut ini adalah kumpulan hadits muslim yang bisa anda kunjungi: HaditsMuslim – Kumpulan Hadits Islam