Wed. Jan 19th, 2022

Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan perusahaan minyak kelas dunia rugi besar, tak terkecuali lima perusahaan terbesar, yakni BP, Shell, Exxon, Total, dan Chevron. Ambruknya harga minyak dunia selama 2020 akibat anjloknya keinginan daya akibat pandemi, menjadi penyebab nyaris semua perusahaan minyak dunia dengan flow meter digital, besar dan kecil merugi. Bisa jadi, Pertamina salah satu yang untung.

Total merupakan perusahaan minyak paling akhir yang mengumumkan kinerjanya. Empat perusahaan yang telah merilis kinerja kuartal IV sekaligus kinerja selama 2020. Penjualan lima perusahaan berikut turun, dan mereka termasuk mencatat kerugian yang terlampau besar. Kerugian berlangsung terlebih didalam operasi upstream atau penambangan minyak mentah dan gas.

Dari segi penjualan, Shell yang mencatat penurunan paling tajam, yakni sebesar 48 % menjadi AS$183,2 miliar. Sedangkan dari faktor raihan laba bersih, raksasa minyak Inggris BP yang mencatatkan kinerja terburuk di antara lima perusahaan minyak terbesar di dunia ini. Pemilik ladang gas Tangguh, Papua, ini labanya berkurang 595 % menjadi minus AS$20,7 miliar.

“Tahun 2020 bakal selalu dikenang karena rasa sakit dan rasa sedih yang disebabkan oleh Covid-19. Banyak nyawa yang hilang, dan mata pencaharian yang hancur. Pandemi Covid-19 merupakan tragedi kemanusiaan. Tak hanya nyawa, Ia termasuk pengaruhi kebugaran mental kita,” kata Bernard Looney, Chief Executive Officer BP, seperti dikutip didalam situsnya.

Ketua Dewan Direksi dan Chief Executive Officer Chevron Mike Wirth punyai ungkapan lain untuk melukiskan keadaan perusahaan pada th. lalu. “Tahun 2020 adalah th. yang tidak tersedia bandingannya,” katanya didalam pernyataannya mengenai kinerja Chevron. Pendapatan Chevron th. selanjutnya turun 35 % menjadi hanya AS$94,7 miliar, terkecil di antara lima besar perusahaan minyak.

Sebagaimana yang lain, Chevron termasuk rugi. Kerugian perusahaan minyak Amerika Serikat ini sesungguhnya yang paling kecil di antara “the big five”, yakni sebesar AS$5,54 miliar. Tapi, laba bersih Chevron sejak 2019 sesungguhnya yang terkecil di antara lima besar. Pada th. itu, Chevron hanya sanggup menggapai keuntungan AS$2,92 miliar.

Harga WTI minus

Pandemi telah menghancurkan perekonomian dunia. Hampir semua negara memberikan reaksi yang sama: halangi mobilitas penduduk atau kesibukan yang melibatkan orang banyak. Pergerakan barang dan jam operasi termasuk dibatasi. “Sektor kami terpukul terlampau keras. Transportasi darat dan hawa menurun, yang berdampak pada turunnya keinginan minyak, harga, dan margin,” kata Looney.

Pasar minyak dunia pada 2020 sesungguhnya hadapi jaman sulit yang luar biasa. Pada 5 Januari 2020, harga minyak telah menjadi turun bersamaan bersama perkembangan persoalan Covid-19 di Cina. Pada 23 Januari, Cina mengisolasi Provinsi Wuhan dan Hubei. Enam hari kemudian, semua provisi di Cina terdampak pandemi. Pada 31 Januari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi global.

Sejak itu, harga minyak dunia tetap meluncur ke bawah akibat keinginan yang turun. Pada 22 Desember 2019, harga West Texas Intermediate (WTI) tetap A$61,72 per barel, pada 22 Maret telah terjungkal sampai AS$21,51 per barel. Pada Februari, keinginan minyak mentah dunia turun 4,2 juta barel per hari bersama total produksi sekitar 100 juta barel per hari. Sebanyak 3,6 juta barel di antaranya merupakan keinginan dari Cina.

Pada 6 Maret, Organisasi Negara Penghasil Minyak (OPEC) and negara produsen minyak non-OPEC bersua mengkaji rancangan mereka memangkas produksi minyak dunia sebesar 2,1 juta barel per hari. Sebulan kemudian, karena keinginan makin lama anjlok, pada 12 April, OPEC+ setuju memangkas produksi 9,7 juta barel. Ketika itu, harga WTI telah jeblok sampai AS$18,27 per barel. Keputusan ini berlaku menjadi 1 Mei.

Kesepakatan ini ternyata tak sanggup menghentikan laju penurunan harga minyak. Bahkan, pada 20 April harga WTI sempat negatif AS$37,63 bersama keadaan pasar minyak dunia pada hari tanpa keinginan dengan sebutan lain demand nol barel. Kesepakatan yang terlampau dijalankan oleh OPEC+ mengakibatkan harga minyak menjadi Mei naik. Pada 31 Desember 2020, harga WTI telah AS$48,52 per barel.

Dari laporan keuangan kuartal IV, terekam harga minyak lima perusahaan minyak terbesar dunia itu turun kebanyakan 30-40 persen. Penurunan harga gas termasuk berada di kisaran tersebut. Harga kebanyakan minyak Total pada 2020, misalnya, sebesar AS$41,8 per barel, turun 35 % dibandingkan th. sebelumnya. Harga gas kebanyakan termasuk hanya AS$3,3 per mmbtu, turun 31 persen.

Dampak segera dari penurunan harga minyak ini adalah pada laba usaha pada segi upstream (penambangan minyak mentah). Lima perusahaan ini sepenuhnya merugi di segi upstream. ExxonMobil, misalnya, dari operasi penambangan minyak di Amerika mencatat rugi usaha sampai AS$19,3 miliar, padahal th. sebelumnya tetap beroleh untungkan AS$536 juta.

Kondisinya sedikit berbeda pada segi downstream (penjualan BBM atau pengolahan hasil minyak). Beberapa di antara mereka tetap tersedia yang hanya mencatat penurunan laba usaha segi downstream, tak sampai merugi. Chevron, misalnya, dari penjualan BBM internasional menggapai laba usaha AS$618 juta, turun dari th. sebelumnya AS$922 juta. Laba usaha BP di downstreamjuga turun dari AS$6,4 miliar pada 2019 menjadi AS$3,1 miliar pada th. lalu.

Meskipun semua perusahaan minyak ini lakukan efisiensi, toh mereka selalu tak sanggup hindari kerugian. Royal Dutch Shell, misalnya, memangkas belanja, termasuk cost produksi dari AS$252,9 miliar menjadi AS$117,1 miliar, tetapi penghematan berikut tak sanggup menghambat Shell merugi sampai AS$21,5 miliar. Empat perusahaan yang lain termasuk lakukan hal yang sama.

Tahun ini, harga minyak telah menjadi bergerak naik. Harga WTI pada Jumat (12/2/2021) telah di posisi AS$59,73 per barel, tertinggi didalam 13 bulan terakhir. OPEC+ setuju menaikkan produksi 500 ribu barel per hari, turun dari rancangan pada awalnya 2 juta barel karena perkembangan varian baru virus Covid-19.

Pertamina untung

Nasib berbeda dialami Pertamina didalam menggapai keuntungan. Meskipun sempat rugi di Semester 1 2020 sebesar AS$767,9 juta atau Rp 11,13 triliun, Pertamina sukses menutup th. 2020 bersama menggapai laba bersih sebanyak AS$1 miliar atau setara bersama Rp 14 triliun.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina sukses menggapai untungkan karena efisiensi di semua lini, baik upstream maupun downstream. Salah satunya adalah bersama memborong BBM disaat harga tengah murah. “Kami menyimpan di penyimpanan di darat (landed storage) maupun penyimpanan terapung (floating storage),” katanya seperti dikutip Tempo.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengatakan, keliru satu penyebab Pertamina sanggup menggapai keuntungan adalah regulasi yang sesuaikan harga penjualan BBM. “Berbeda bersama perusahaan minyak global yang bergantung pada harga pasar, harga menjual BBM Pertamina diatur oleh regulasi,” katanya.

Regulasi ini diatur di didalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 62.K/12/MEM/2020 mengenai Formula Harga Dasar didalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum dan/atau Stasiun Pengisian Bahan bakar Nelayan.

Di sini, harga BBM diatur berdasarkan harga kebanyakan product kilang minyak di Singapura yang bertujuan untuk melindungi kestabilan harga menjual jenis bahan eceran bahan bakar bensin dan solar. “Makanya kami lihat, disaat harga minyak mentah jatuh, harga BBM kami kan nggak turun. Padahal, Pertamina mengimpornya bersama harga yang rendah banget,” ujar Fabby.

By toha